Rabu, 02 Maret 2011

pendahuluan

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Era Globalisasi merupakan peluang sekaligus tantangan bagi bangsa Indonesia dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu bertanding dan bersanding dengan kualitas serupa dengan bangsa lain. Arus Globalisasi dan Informasi telah mengalir ke seluruh segi kehidupan dan membawa dampak bagi manusia yang sebelumnya tidak terduga.
Bersama dengan itu pengaruh inovasi pemikiran yang dilancarkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk menghancurkan moral generasi muda semakin menjadi-jadi, terbukti dengan semakin banyaknya orang Islam (siswa) yang tidak tahan terhadap ajaran agamanya sendiri, sehingga perilakunya semakin jauh dari pedoman hidupnya, yaitu: “Al Qur’an Al Hadits”.
Dampak itu terlihat pada sebagian siswa di Kota Madiun, tingkat kenakalan semakin tinggi dan memprihatinkan, diantaranya akrab dengan alkohol, akrab dengan obat-obatan terlarang (NAPZA), hubungan seksual bebas dan menurunnya tatakrama kehidupan sosial.
Mengantisipasi perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam era keterbukaan, aspek kualitas yang perlu dibangun tidak terbatas pada fisik dan mental kecerdasan saja, tetapi meliputi kemampuan siswa menepis pengaruh perubahan dan perkembangan tersebut. Kemampuan daya tepis ini banyak di tentukan oleh kearifan kita yang bersumber pada penghayatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Secara individual, penghayatan dan pengalaman ini dibekalkan dan dilatihkan kepada siswa melalui pembekalan IMTAQ (Iman dan Taqwa).
Kenyataan yang terjadi dalam proses Pendidikan Agama Islam di sekolah Menengah Pertama sekarang ini masih jauh dari harapan dan perhatian khusus para guru agama, disamping itu mata pelajaran Agama Islam dianggap sebagai pelengkap mata pelajaran, bukan suatu kebutuhan yang mewarnai pola hidup.
Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu adanya pembelajaran Agama Islam yang memperhatikan sejumlah variabel, seperti metode dan media pembelajaran dari berbagai fasilitas.                                
Apabila proses belajar itu diselenggarakan secara formal di sekolah-sekolah, tidak dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan, ketrampilan maupun sikap.
Dari gambaran masalah-masalah yang diungkapkan di atas, terlihat pentingnya pembelajaran dunia nyata di sekolah. Alternatif yang dimaksud yaitu sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman, ketrampilan berpikir kritis dan kemampuan mengaplikasikan teori dari konsep-konsep yang telah dipahami untuk memudahkan pembelajaran dalam dunia nyata.
Menurut Reigeluth dalam Degeng (1989: 14) pada hakekatnya hanya variabel metode pembelajaran yang berpeluang untuk dimanipulasi. Karena metode yang tepat dengan memperhatikan kondisi yang ada akan dapat meningkatkan hasil belajar.
Senada dengan Reigeluth, Degeng (2001: 12) berpendapat bahwa belajar menjadi mudah dan lebih menyenangkan bagi siswa, metode yang lebih efektif, efesien dan memiliki daya tarik tinggi. Belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri sendiri disebabkan adanya interaksi antara individu, serta individu dengan lingkungannya.
Burto (1994) dalam mengartikan sebagai berikut :
“Learning is change in the individual due to instruction of that individual and his environment, which fells a need and makes him more capable of dealing adequately with his environment”.
Ada kata kunci “perubahan” atau change tingkah laku pada anak didik secara individual setelah terlibat dalam proses belajar, baik aspek pengetahuan, ketrampilan maupun sikap. Karenanya peran profesi guru Pendidikan Agama Islam mencakup mendidik (meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup yang bersumber kepada ajaran Islam). Mengajar meneruskan dan  mengembangkan ilmu Agama Islam), dan melatih (berbagai ketrampilan keagamaan, ibadah, muamalah) baik dalam kegiatan intra maupun ekstra kurikulum.
Selain itu, dalam paradigma baru itu mencakup juga (memperhatikan) nilai-nilai kebangsaan, budaya lokal, religi, moral, demokrasi, HAM, IPTEK, dan sebagainya disamping juga berwawasan global.
Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang sistim Pendidikan Nasional, Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu cukup, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sekolah merupakan pendidikan formal. Dikatakan formal karena di sekolah terlaksananya kegiatan proses belajar mengajar. Menurut pandangan Humanistik kegiatan proses belajar mengajar, berorientasi pada kegiatan siswa, dengan mengutamakan kesejahteraan mental dan emosi, agar belajar dapat memberikan hasil maksimal.
Menurut pemandangan  S. Nasution,  bahwa hasil belajar akan maksimal jika dalam proses belajar telah memperhatikan ciri-ciri kepribadian anak, karena setiap peserta didik mempunyai perbedaan-perbedaan near individual. Dengan memperhatikan peserta didik dapat menerapkan berbagai macam metode mengajar (1999: 23)
Menurut W.S Winkel dewasa ini dikalangan tenaga-tenaga pendidik banyak membicarakan masalah “Krisis Motivasi Belajar”, terlebih yang menyangkut motivasi intrinsik, gejala yang ada diantaranya kelalaian mengerjakan tugas secara musiman jika akan ujian dan sebagainya (1996, 175).
Oleh karena itu diperlukan peranan seorang pendidik dalam kegiatan belajar mengajar agar dapat membangkitkan gairah belajar peserta didik. Disamping motivasi yang diprediksi dapat meningkatkan hasil belajar, sebaiknya seorang pendidikan juga mengetahui gaya belajar yang unik masing-masing individu.
Menurut Bobbi De Porter, jika pendidi dapat merancang pengajaran yang memuaskan gaya belajar peserta didik, memanfaatkan kecerdasan mereka dan melejitkan motivasi, maka dapat membuat hasil belajar lebih melekat (2002; 84).
Dan supaya informasi yang telah diperoleh peserta didik bisa bertahan lebih lama, maka tugas seorang pendidik membantu mendorong peserta didik untuk belajar aktif dengan cara menciptakan suasana yang menyenangkan, kreatif dan dinamis.
Dewasa ini guru-guru masih nampak gamang terhadap pendekatan baru utama nya pedekatan yang berbasis pada pembelajaran enjoi learning. Meskipun Depdiknas telah merekomendasi CTL sebagai pendekatan yang layak di terapkan disemua jajaran sekolah.
Bertolak dari hal-hal tesebut diatas penulis sangat tertatik untuk mengadakan penelitian dengan judul :
PENGARUH MOTIVASI BELAJAR, DAN PENDEKATAN CTL DENGAN PRESTASI BELAJAR  MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA KELAS VII DI SMP NEGERI  IV DAN SMP NEGERI V KOTA MDIUN TAHUN PELAJARAN 2007 – 2008.
A.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalan sebagai berikut
1.      Apakahterdapat pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada kelompok pembelajaran  siswa kelas VII di SMPNegeri IV dan SMP Negeri V Kota Madiun.
2.      Apakah terdapat pengaruh pendekatan CTL terhadap hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada kelompok pembelajaran siswa kelas VII di SMP Negeri IV dan SMP Negi V  Kota Madiun.
3.      Apakah terdapat pengaruh motivasi belajar dan pendekatan CTL terhadap  hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada kelompok pembelajaran siswa.kelas VII di SMP Negeri IV dan SMP Negeri V Kota Madiun.
B.     Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mensosialisasikan betapa pentingnya motivasi dan pendekatan yang tepat pada pembelajaran.
Adapun secara khusus tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini berpijak dengan rumusan masalah adalah :
1.      Untuk mengetahui pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar   mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada kelompok pembelajaran  siswa kelas VII di SMP Negeri IV dan SMP Negeri V Kota Madiun.
2.      Untuk mengetahui pengaruh pendekatan CTL terhadap hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada kelompok pembelajaran siswa kelas VII di SMP Negeri IV dan SMP Negeri V Kota Madiun.
3.      Untuk mengetahui pengaruh  motivasi belajar dan pendekatan CTL terhadap hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada kelompok pembelajaran  siswa kelas VII di SMP Negeri IV dan SMP Negeri V Kota Madiun.
C.     Manfaat Penelitian
1.      Secara teoritik penelitian ini bermanfaat :
a.       Mengungkapkan pengaruh pembelajaran CTL terhadap hasil belajar.
b.      Mengungkapkan pengaruh motivasi dalam proses pembelajaran terhadap hasil belajar siswa.

2.   Secara Praktis penelitian ini bermanfaat :
a.       Memberikan sumbangan informasi kepada peneliti, selanjutnya tentang pembelajaran CTL dan peranan motivasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam
b.      Menjadikan bahan kajian bagi guru Pendidikan Agama Islam dalam merancang dan menerapkan sistim pembelajaran CTL dengan motivasi sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa (kognitif, afektif dan psikomotorik).
c.       Membantu pemikiran bagi para peneliti pendidikan yang akan mengadakan peneliti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar