eskon sungkono
Kamis, 03 Maret 2011
Rabu, 02 Maret 2011
metode penelitian
BAB IIIMETODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini bersifat riset perbedaan atau pengaruh variabel-variabel yang berbeda. Motivasi belajar dan pendekatan CTL sebagai variabel terikat dan hasil belajar sebagai variabel tergantung, metode yang dipakai dalam penelitian sebagai berikut:
1. Metode kuantitatif sebagai alat yang lebih tepat untuk mengetahui hubungan dan pengaruh antar variabel-variabel
2. Metode kualitatif membantu memberikan gambaran yang terarah dalam kesimpulan-kesimpulan.
VARIABEL TERGANTUNG VARIABEL TERIKAT
Pendekatan CTL dengan motifasi belajar Prestasi Belajar PAI
Pendekatan CTL tanpa motifasi belajar
Pendekatan Konvensional dengan motivasi
Pendekatan Konvensional tanpa motivasi
B. Populasi/Sampel
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto : 1999,155). Populasi adalah SMPN IV dan SMPN V Kota Madiun.
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto : 1999,117) penelitian yang dilakukan berdasarkan sample bertujuan (Purposive Sample).
Menurut Suharsimi Arikunto, Purposive sample adalah sampel dilakukan dengan cara mengambil subyek bukan didasarkan atas strata, random, atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu (Arikunto : 1999, 127) sebagai sample tujuan adalah siswa kelas VII SMPN IV dan SMPN V Kota Madiun. Pemilihan sample kelas VII didasarkan pertimbangan mantap pelajaran merupakan dasar untuk mengikuti jenjang kelas II dan akhir penilaian mata pelajaran Agama Islam sudah menerapkan pendekatan CTL.
Menurut Masri Singaribun dan Sofian Effendi sampel acak adalah sebuah sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan elementer terdiri populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel (1999, 156). Tabel sampel penelitian pengaruh motivasi belajar dan pendekatan CTL terhadap hasil belajar pendidikan Agama Islam.
No. | Nama Sekolah | Kelas | Kelompok Mata Pelajaran | Jumlah Siswa | Variabel Penelitian |
1. | SMP NEGERI IV MADIUN | VII a. VII b. | Pendidikan Agama Islam | 38 40 | Motivasi belajar dan Pendekatan CTL |
2. | SMP NEGERI V MADIUN | VIIa VIIb | Pendidikan Agama Islam | 40 30 | Motivasi belajar dan Pendekatan CTL |
C. Teknik Pengumpulan Data
1. Kuesioner
Menurut Suharsimi Arikunto Kuisioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden (1999, 140). Sedangkan dalam penelitian dipergunakan bentuk kuisioner tertutup.
Menurut Masri Singarimbun dan Sofian Effendi pertanyaan tertutup merupakan pertanyaan yang jawabannya sudah ditentukan terlebih dahulu dan responden bebas memberikan jawaban (1999, 177).
Untuk memperoleh data pendekatan CTL dan motivasi belajar kusioner dibuktikan pada kelas VII, 2 dan kelas. VII 3
Kusioner motivasi belajar terdiri dari 10 pernyataan atau butir dengan empat pilihan jawaban dengan bobot berturut mulai dari 4 sampai dengan 1. Kusioner motivasi belajar merupakan kusioner buatan sendiri yang perlu diuji tingkat validitasnya.
Dokumen yang diperlukan dalam penelitian adalah data hasil belajar pendidikan Agama Islam SMPN IV dan SMPN V Kota Madiun.
2. Test
Test hasil belajar adalah sekelompok pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab atau diselesaikan oleh siswa dengan untuk mengukur kemajuan belajar siswa. Hasil test berupa data kuantitatif.. Test hasil belajar, yaitu test yang menilai sampai dimana hasil belajar yang dicapai oleh siswa, setelah mereka menjalani perbuatan belajar dalam waktu tertentu.( Slameto 1988 ; 30 )
Test digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar siswa kelas VII mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada kelompok-kelompok belajar siswa. Di SMP Negeri IV dan SMP Negeri V Madiun.
3. Dokumentasi.
Pengunmpulan data dengan format pencatatan data bisa berupa laporan hasil belajar siswa, laporan kegiatan, rancangan pembelajaran, soal-soal test dan lain-lain (Suharjono dan Rufi’i 2004-34)
Metode untuk mempeoleh data yang telah ada disekolah terutama tentang siswa serta hasil prestasi belajarnya serta data tentang guru-guru agama Islam.
D. Uji Instrumen
Untuk memperoleh data yang benar, maka kusioner perlu diuji tingkat kevalidan (Validitas). Langkah-langkah yang dipakai adalah sebagai berikut:
- Menyusun kusioner
- Melakukan uji coba pada responden minimal 30 orang
- Mempersiapkan tabel tabulasi jawaban
- Menghitung korelasi antara masing-masing soal atau pernyataan dengan
Skor tabel dengan menggunakan rumus teknik korelasi “Product Moment”

atau dengan bantuan komputer.
E. Teknik Analisa Data
Setelah data terkumpul dari hasil pengumpula data untuk diolah lebih lanjut (Arikunto, 240).
Langkah Analisa Data
1. Tahap Persiapan
Pengecekan data tentang identitas Responden dan alat yang akan digunakan untuk penelitian yaitu berupa kuisioner.
2. Pembuatan Tabulasi
Termasuk didalam kegiatan tabulasi adalah pengkodean pemberian skore.
3. Penerapan data
Untuk analisa data dipakai alat statistik dengan teknik analisa data.
4. Untuk mengetahui pengaruh hasil belajar siswa pada bidang studi pendidikan agama Islam antara kelompok pembelajaran dengan motivasi dan kelompok belajar tanpa motivasi pada kelas VII di SMP IV dan SMP V Kota madiun.Sebelum analisis dilakukan dengan analisis Varian terlebih dahulu diadakan uji persyaratan. Adapun uji persyaratan tersebut:
1. Uji normalitas menggunakan analisis kolmogorov smirnov (SPSS 13.0)
2. Uji homogenitas menggunakan uji Levene (SPSS 13.0).
Uji analisis untuk mengetahui hipotesis yang diajukan menggunakan ANAVA 1 (satu) jalur, akan tetapi dalam hal ini peneliti menggunakan uji statistic SPSS 110 (Sugiono, 2000:21)
Tabel 3.7 Rumusan ANAVA
Sumber Variasi | Jumlah Kuadrat | Derajat Kebebasan | Rata-rata Kuadrat | F Hitung |
Perlakuan | JKP | K-1 | ||
Blok | JKB | b-1 | ||
Galat | JKG | (k-1)(b-1) | ||
Jumlah | JKT | Bk-1 |
kajian pustaka
BAB IIKAJIAN PUSTAKA
A. Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam
Setiap mata pelajaran memiliki ciri khas atau karakteristik tertentu yang dapat membedakannya dengan mata pelajaran lainnya. Begitu juga halnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya di Sekolah Menengah Pertama. Adapun karakteristik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran pokok (dasar) yang terdapat dalam agama Islam, karena itulah Pendidikan Agama Islam merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran Islam.
2. Ditinjau dari segi muatan pendidikannya, Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan mata pelajaran lain yang bertujuan untuk mengembangkan moral dan kepribadian peserta didik, karena itulah semua mata pelajaran yang memiliki tujuan tersebut harus seiring dan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
3. Tujuan diberikannya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, khususnya di SMP adalah untuk terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, berbudi pekerti yang luhur (berakhlak mulia) dan memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam, terutama sumber ajaran dan kerangka dasarnya, sehingga mampu mempelajari berbagai bidang ilmu dan tehnologi serta seni dan budaya sebagai bentuk peradaban Islam yang merupakan ekspresi dari ajaran Islam tanpa harus terbawa oleh pengaruh-pengaruh negatif yang mungkin ditimbulkan oleh ilmu dan tehnologi serta seni dan budaya tersebut.
4. Pendidikan Agama Islam adalah mata pelajaran yang tidak hanya mengantarkan peserta didik dapat menguasai berbagai kajian Islam, tetapi Pendidikan Agama Islam lebih menekankan bagaimana peserta didik mampu menguasai kajian keislaman tersebut sekaligus dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, tetapi yang lebih penting adalah pada aspek efektif dan psikomotoriknya.
5. Secara umum mata pelajaran Pendidikan Agama Islam didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang ada pada dua sumber pokok ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW (dalil naqli). Dengan melalui metode Ijtihat (dalil aqli), para ulama mengembangkan prinsip-prinsip Pendidikan Agama Islam tersebut dengan lebih rinci dan mendetail.
6. Prinsip-prinsip dasar PAI tertuang dalam tiga kerangka dasar ajaran Islam, yaitu aqidah, syari’ah, dan akhlak. Aqidah merupakan penjabaran dari konsep iman, syari’ah merupakan penjabaran dari konsep islam, dan akhlak merupakan penjabaran dari konsep ihsan. Dari ketiga prinsip dasar itulah berkembang berbagai kajian keislaman, termasuk kajian yang terkait dengan ilmu dan teknologi serta seni dan budaya.
Adapun tujuan akhir dari mata pelajaran PAI di SMP adalah:
“Terbentuknya peserta didik yang memiliki akhlak mulia (budi pekerti yang luhur)” (Diknas, Pedoman Khusus PAI, 2002). Tujuan inilah yang sebenarnya merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW di dunia ini.
Dengan demikian, pendidikan akhlak (budi pekerti) adalah jiwa pendidikan dalam Islam (PAI). Mencapai akhlak yang karimah (mulia) adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Hal ini tidak berarti bahwa pendidikan Islam tidak memperhatikan pendidikan jasmani, akal, ilmu ataupun segi-segi praktis lainnya.
Itulah gambaran tentang karakteristik Pendidikan Agama Islam (PAI) pada umumnya, dan mata pelajaran PAI di SMP pada khususnya yang dapat dikembangkan oleh para guru PAI dengan variasi-variasi tertentu, selama tidak menyimpang dari karakteristik umum ini. Diantara variasi itu adalah Pembelajaran Kontekstual.
Adapun struktur keilmuan PAI dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 2.1. Struktur Keilmuan PAI
![]() |
B. Teori Belajar Yang Melandasi Pembelajaran Kontekstual
1. Teori Pembelajaran Kognitif
Mengkaji tujuan pembelajaran PAI di SMP seperti yang diuraikan dalam pengembangan silabus mata pelajaran SMP 2002, maka proses pembelajaran PAI hendaknya diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa terlibat secara aktif, baik mentalnya, fisik sosialnya untuk memahami, menghayati dan mengamalkan konsep-konsep atau aturan-aturan dalam Islam, sehingga dalam proses pembelajarannya diharapkan dapat terjadi pesan aktif siswa dalam rangka kegiatan-kegiatan menemukan dan menghiasi dirinya dengan sikap dan tingkah laku (budi pekerti luhur) melalui pengalaman-pengalaman dan interaksinya dengan permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungannya. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka proses pembelajarannya dilaksanakan juga dalam bentuk praktek agar siswa secara langsung mendapatkan pengalaman-pengalaman nyata.
Menurut pandangan psikologi kognitif, pembelajaran merupakan produk interaksi antara apa yang diketahui pembelajar, informasi yang mereka temui dan apa yang mereka lakukan ketika belajar. Penerapan dari psikologi kognitif banyak didasarkan pada paradigma konstruktivisme, teori metacognition dan pengalaman-pengalaman praktis di lapangan (reflection in action).
Salah satu bentuk revolusi dalam psikologi pendidikan yang saat sekarang sering disebut adalah Teori Pembelajaran Konstruktivis yang esensinya adalah ide “bahwa siswa secara individu menemukan dan mentransfer informasi-informasi kompleks apabila mereka harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri” Brooks, 1990 (Nur, 1992 : 2).
Graves (Slavin, 1994: 225), salah seorang penganut konstruktivisme menyatakan bahwa sebagian besar dari apa yang dipelajari dan dipahami seseorang ditentukan oleh individu sendiri.
Dalam proses pembelajaran siswa diharapkan dapat menemukan sendiri dan mentransformasikan segala informasi kompleks, mengecek informasi yang baru dengan kemampuan lama yang telah dimiliki dan merevisinya apabila tida sesuai. Penerapan dari teori tersebut dalam proses pembelajaran adalah bahwa guru tidak hanya memberi siswa pengetahuan jadi, tetapi siswa secara aktif harus membangun pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri. Guru berperan memberi dukungan dan memberi kesempatan pada siswa untuk menerapkan ide mereka dalam belajar.
Perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Implikasi dari teori Piaget dapat diterapkan dalam pembelajaran pada jenjang SMP, yakni:
a. Memusatkan kepada berpikir atau proses mental anak, dan tidak sekedar pada hasilnya. Guru tidak hanya mengutamakan pada kebenaran jawaban siswa, tetapi harus memahami proses yang digunakan anak sampai pada jawaban itu.
b. Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Penyajian pengetahuan dalam kelas tidak terdapat tekanan, melainkan anak didorong menemukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan dengan lingkungannya.
c. Memaklumi tentang adanya perbedaan individu dalam hal kemajuan perkembangan, dengan asumsi: seluruh siswa melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung pada kecepatan yang berbeda.
Hasil formulasi dari berparadigma konstruktivisme yang melandasi strategi kognitif adalah Mete-Cognition.
Preisseisen, (Pulina, 1997: 6) menjelaskan bahwa Meta-Cognition merupakan ketrampilan dalam mengatur dan mengontrol proses berpikir. Lebih lanjut diuraikan bahwa dalam Meta-Cognition meliputi 4 jenis ketrampilan, yaitu:
a. Ketrampilan Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Adalah ketrampilan individu dalam menggunakan proses berpikir untuk memilih suatu keputusan yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada melalui pengumpulan informasi, perbandingan kebaikan dan kekurangan dari setiap alternatif, analisis informasi danm pengambilan keputusan yang terbaik berdasarkan alasan yang rasional.
b. Ketrampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking)
Adalah ketrampilan individu menggunakan proses berpikir untuk menganalisa argumen dan memberikan interpretasi berdasarkan persepsi yang sahih melalui logical reasoning, analisis asumsi dan interpretasi logis.
c. Ketrampilan Berpikir Kreatif (Creatif Thingking)
Adalah ketrampilan individu dalam menggunakan proses berpikir untuk menghasilkan ide baru, konstruktif dan baik berdasarkan konsep dan prinsip yang rasional maupun persepsi dan intuisi individu.
2. Teori Pembelajaran Sosial
Albert Bandura (1977: 79) adalah satu dari pencetus teori pembelajaran sosial, menekankan observational learning. Lebih lanjut Bandura menguraikan bahwa dengan simbol dapat menjadi sarana yang kuat untuk memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, memungkinkan kita menggambarkan kejadian, menganalisa pengalaman batin, berkomunikasi dengan orang lain dan memungkinkan kita untuk menyelesaikan permasalahan.
Menurut Bandurra, seseorang dapat belajar melalui obervasi tentang dubia social yang ada di sekitarnya. Piaget dan Vygotsky juga menekankan adanya sosial dalam mengajar, dan keduanya menyarankan untuk menggunakan kelompok-kelompok belajar dengan perubahan konseptual. Pada akhirnya ide-ide konstruktivis dan pembelajaran sosial banyak berlandaskan pada teori-teori Vygotsky (Karpov dan Bransford, 1995) dan sampai saat ini telah digunakan untuk menunjang metode pengajaran yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek dan penemuan.
Prinsip kunci dan teori ini adalah adanya penekanan pada hakekat sosial dan pembelajaran. Siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya yang lebih mampu.
C. Motivasi Belajar
Menurut W.S. Winkel, motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, manajemen kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar untuk mencapai suatu tujuan (W.S. Winkel, 1996: 150).
§ Jenis Motivasi
Motivasi banyak jenisnya. Para ahli mengadakan pembagian jenis-jenis motivasi menurut teorinya masing-masing. Dari keseluruhan teori motivasi, dapat diajukan tiga pendekatan untuk menentukan jenis-jenis motivasi, yakni: (1) Pendekatan Kebutuhan, (2) Pendekatan Fungsional, dan (3) Pendekatan dreskriptif.
1. Pendekatan Kebutuhan
Abraham H. Maslow melihat motivasi motivasi dari segi kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia sifatnya bertingkat-tingkat. Pemuasan terhadap tingkat kebutuhan tertentu dapat dilakukan jika tingkat kebutuhan sebelumnya telah mendapat pemuasan. Kebutuhan-kebutuhan itu adalah:
a. Kebutuhan Fisiologis, yakni kebutuhan primer yang harus dipuaskan lebih dahulu, yang terdiri dari kebutuhan pangan, sandang dan tempat berlindung.
b. Kebutuhan Keamanan, baik keamanan batin maupun keamanan barang atau benda.
c. Kebutuhan Sosial, yang terdiri dari kebutuhan perasaan untuk diterima oleh orang lain, perasaan dihormati, kebutuhan untuk berprestasi, dan kebutuhan perasaan berpartisipasi.
d. Kebutuhan Berprestasi, yakni kebutuhan yang erat hubungannya dengan status seseorang.
Jenis-jenis kebutuhan tersebut dapat menjadi dasar dalam menggerakkan motivasi belajar siswa. Upaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut melalui proses pembelajaran hanya dapat dilakukan oleh guru dalam batas-batas tertentu.
2. Pendekatan Fungsional
Pendekatan ini berdasarkan pada konsep-konsep motivasi, yakni: penggerak, harapan, dan inisiatif.
a. Penggerak
Adalah yang memberi tenaga tetapi tidak membimbing, bagaikan mesin tetapi tidak mengemudikan kegiatan. Organisme berada dalam keadaan tegang, responsive dan penuh kesadaran. Pada diri manusia terdapat dua sumber tenaga, yakni sumber eksternal dan sumber internak. Sumber eksternal adalah stimulasi yang diberikan oleh lingkungan, stimulasi yang masuk dari luar sampai pada konteks melalui jalur tertentu, yakni melalui mekanisme persyaratan, sehingga timbul tenaga penggerak. Sumber internal adalah alur pikiran. Simbiol-simbol dan fantasi daripada konteks, misalnya mimpi di siang bolong.
b. Harapan
Adalah keyakinan sementara bahwa suatu hasil akan diperoleh setelah dilakukannya suatu tindakan tertentu. Harapan-harapan merupakan rentang antara ketentuan subjektif bahwa sesuatu akan terjadi, dan ketentuan subjektif bahwa sesuatu tak akan terjadi. Ada jurang antara apa yang kita amati dengan apa yang kita harapkan dalam melakukan pengamatan. Salah satu jenis harapan ialah motif berprestasi, ialah harapan untuk memperoleh kepuasan dalam penguasaan perilaku yang menantang dan sulit (Mc Clelland, 1955). Berdasarkan hasil penelitiannya di India, dia mengajukan sebanyak 12 preposisi tentang pengembangan motif-motif baru di kalangan orang dewasa. Preposisi-preposisi tersebut sebagai berikut:
1) Upaya-upaya pendidikan untuk mengembangkan suatu motif baru akan berhasil dengan baik bila individu memiliki alasan-alasan yang kuat dan percaya bahwa dia dapat, akan, dan harus mengembangkan suatu motif.
2) Upaya-upaya pendidikan akan berhasil dengan baik bila individu memahami bahwa pengembangan motif baru bersifat realistik dan beralasan.
3) Individu mau mengembangkan motif jika dia mampu menentukan dengan jelas aspek-aspek suatu motif.
4) Perubahan dalam pikiran dan tindakan akan terjadi jika individu dapat mengaitkan motif dengan perubahan tertentu.
5) Motif baru akan mempengaruhi pikiran dan tindakan individu jika dia dapat mengaitkannya dengan peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari.
6) Motif baru akan mempengaruhi pikiran dan perbuatan jika individu meihat motif itu sebagai suatu perbaikan dalam citranya sendiri.
7) Motif akan mempengaruhi pikiran dan tindakan bila individu dapat melihat dan mengalami motif baru sebagai perbaikan terhadap nilai-nilai kultural.
8) Motif akan mempengaruhi pikiran dan tindakan bila individu terlibat dalam upaya mencapai tujuan-tujuan yang konkret dalam kehidupan yang berhubungan dengan motif tersebut.
9) Motif akan mempengaruhi pikiran dan tindakan bila individu merasa ada kemajuan pada dirinya ke arah pencapaian tujuan.
10) Perubahan-perubahan dalam motif akan terjadi dalam suasana yang menggairahkan dan dipandang sebagai orang yang mampu membimbing dan menggerakkan tingkah lakunya (future behavior).
11) Perubahan motif lebih banyak terjadi jika dia lebih banyak belajar sendiri dan beralih dari kehidupannya yang bersifat rutin.
12) Perubahan motif akan terjadi jika motif baru dijadikan sebagai syarat untuk menjadi anggota kelaompok baru.
c. Inisiatif
Ialah obyek tujuan aktual. Ganjaran (reward) dapat diberikan dalam bentuk konkrit atau dalam bentuk simbolik. Inisiatif menimbulkan dan menggerakkan perbuatan jika diasosiasikan dengan stimulasi tertentu dalam bentuk tanda-tanda akan mendapatkan suatu, misalnya siswa dimotivasi dengan cara-cara atau tanda-tanda tertentu, bahwa dia akan memperoleh uang. Kita mengharapkan siswa berupaya lebih keras dengan cara merangsang mereka dengan kemungkinan mendapat hadiah. Dalam hal ini indidividu melakukan antisipasi dan mengharapkan sesuatu.
3. Pendekatan Deskriptif
Masalah motivasi ditinjau dari pengertian-pengertian deskriptif yang merujuk pada kejadian-kejadian yang dapat diamati dan hubungan-hubungan matematika. Masalah motivasi dilihat berdasarkan kegunaannya dalam rangka mengendalikan tingkah laku manusia. Dengan pendekatan ini motivasi didefinisikan sebagai stimulasi kontrol (Evan R.Keisler, 1960: 310-315).
§ Sifat Motivasi
Berdasarkan pengertian dan analisis motivasi yang dikemukakan di atas, pada pokoknya motivasi memiliki dua sifat,yakni (1) Motivasi Intrinsik, (2) Motivasi Ekstrinsik, yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
1. Motivasi Instrinsik.
Adalah motivasi yang tercakup dalam situasi belajar yang bersumber dari kebutuhan dan tujuan-tujuan siswa sendiri. Motivasi ini sering disebut “motivasi murni” atau motivasi yang sebenarnya, yang timbul dari diri peserta didik, misalnya keinginan untuk mendapat keterampilan tertentu, memperoleh informasi dan pemahaman, mengembangkan sikap untuk berhasil, menikmati kehidupan, secara sadar memberikan sumbangan kepada kelompok, keinginan untuk diterima oleh orang lain, dan sebagainya. Motivasi ini timbul tanpa pengaruh dari luar.
Motivasi intrinsik adalah motivasi yang hidup dalam diri peserta didik dan berguna dalam situasi belajar yang fungsional. Dalam hal ini, pujian atau hadiah atau sejenisnya tidak diperlukan, karena tidak akan menyebabkan peserta didik bekerja atau belajar untuk mendapatkan pujian atau hadiah itu.
Sebagaimana dikemukakan oleh Emeson, bahwa the reward of a thing well done is to have done it, ini berarti bahwa motivasi intrinsik adalah bersifat nyata atau motivasi sesungguhnya yang disebut Sound Motivation.
2. Motivasi Ekstrinsik
Adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar, seperti: angka kredit, ijasah, tingkatan, hadiah, medali, pertentangan dan saingan, yang bersifat negatif ialah sarkasme, ejekan (ridicule) dan hukuman.
Motivasi ekstrinsik tetap diperlukan di sekolah, sebab pembelajaran di sekolah tidak semuanya menarik minat atau sesuai kebutuhan peserta didik. Ada kemungkinan peserta didik belum menyadari kepentingan bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Dalam keadaan ini peserta didik yang bersangkutan perlu dimotivasi agar belajar. Guru berupaya membangkitkan motivasi belajar peserta didik sesuai dengan keadaan peserta didik itu sendiri. Tidak ada suatu rumus tertentu yang dapat digunakan oleh guru untuk setiap keadaan.
Antara motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik sulit untuk menentukan mana yang lebih baik, yang dikehendaki ialah timbulnya motivasi intrinsik, tetapi motivasi ini tidak mudah dan tidak selalu dapat timbul. Di pihak lain, guru bertanggung jawab agar pembelajaran berhasil dengan baik dan oleh karenanya guru berkewajiban membangkitkan motivasi ekstrinsik pada peserta didiknya. Diharapkan lambat laun timbul kesadaran sendiri untuk melakukan kegiatan belajar. Guru berupaya mendorong dan merangsang agar tumbuh motivasi sendiri (self motivation) pada peserta didik.
Kemunculan sifat motivasi, apakah motivasi intrinsik atau motivasi ekstrinsik akan berhubungan dengan berbagai faktor, yakni:
1. Tingkat kesadaran diri siswa atas kebutuhan tingkah laku / perbuatannya dan kesadaran atas tujuan belajar yang hendak dicapainya.
2. Sikap guru terhadap kelas.
Guru yang bersikap bijak dan selalu merangsang siswa untuk berbuat ke arah satu tujuan yang jelas dan bermakna bagi kelas, akan menumbuhkan sifat intrinsik itu, tetapi bila guru lebih menitikberatkan pada rangsangan-rangsangan sepihak, maka sifat ekstrinsik lebih menjadi dominan.
3. Hubungan kelompok siswa.
Bila hubungan kelompok terlalu kuat, maka motivasinya lebih condong ke sifat ekstrinsik.
4. Suasana kelas juga berhubungan dngan munculnya sifat tertentu dalam motivasi belajar siswa. Suasana kebebasan yang bertanggung jawab tentunya lebih merangsang munculnya motivasi instrinsik dibandingkan dengan suasana penuh tekanan dan paksaan.
§ Prinsip-prinsip Motivasi Belajar
Berdasarkan hasil penelitian yang seksama tentang upaya yang mendorong motivasi belajar siswa, khususnya pada sekolah yang menganut demokrasi pendidikan dan yang mengacu pada pengembangan self motivation, Kenneth H. Hoover mengemukakan prinsip-prinsip motivasi belajar sebagai berikut:
1. Pujian lebih efektif daripada hukuman.
Hukuman bersifat menghentikan sesuatu perbuatan, sedangkan pujian bersifat menghargai apa yang telah dilakukan, karena itu pujian lebih efektif dalam upaya mendorong motivasi belajar siswa.
2. Para siswa mempunyai kebutuhan psikologis (yang bersifat dasar) yang perlu mendapat kepuasan.
Kebutuhan-kebutuhan itu berwujud dalam bentuk yang berbeda-beda. Siswa yang dapat memenuhi kebutuhannya secara efektif melalui kegiatan-kegiatan belajar hanya memerlukan sedikit bantuan dalam motivasi belajar.
3. Motivasi yang bersumber dari dalam diri individu lebih efektif daripada motivasi yang berasal dari luar.
Motivasi dari dalam memberi kepuasan kepada individu sesuai dengan ukuran yang ada dalam diri siswa itu sendiri.
4. Tingkah laku (perbuatan) yang serasi (sesuai dengan keinginan) perlu dilakukan penguatan (reinforcement).
Apabila suatu perbuatan belajar mencapai tujuan, maka terhadap perbuatan itu perlu segera diadakan pengulangan kembali setelah beberapa waktu kemudian, sehingga hasilnya lebih mantap. Penguatan perlu dilakukan pada setiap tingkat pengalaman belajar.
5. Motivasi mudah menjalar kepada orang lain.
Guru yang berminat antusias dapat mempengaruhi siswa, sehingga berminat dan antusias pula, yang pada gilirannya akan mendorong motivasi rekan-rekannya, terutama dalam kelas bersangkutan.
6. Pemahaman yang jelas terhadap tujuan-tujuan akan merangsang motivasi belajar.
Apabila siswa telah menyadari tujuan belajar dan pembelajaran yang hendak dicapainya, maka perbuatan belajar ke arah tujuan tersebut akan meningkat karena daya dorongnya menjadi lebih besar.
7. Tugas-tugas yang dibebankan oleh dirinya sendiri akan menimbulkan minat yang lebih besar untuk melaksanakannya daripada tugas-tugas yang dipaksakan dari luar.
Guru perlu memberi kesempatan kepada siswa menemukan dan memecahkan masalah sendiri berdasarkan minat keinginannya dan bukan dipaksakan oleh guru sendiri.
8. Ganjaran yang dari luar kadang-kadang diperlukan dan cukup efektif untuk merangsang minat belajar.
Dorongan berupa pujian, penghargaan oleh guru terhadap siswa dalam belajar dapat merangsang minat dan motivasi belajar yang lebih aktif.
9. Teknik dan prosedur pembelajaran yang bervariasi adalah efektif untuk memelihara minat siswa.
Strategi pembelajaran yang dilaksanakan secara bervariasi dapat menciptakan suasana yang menantang dan menyengangkan bagi siswa, sehingga lebih mendorong motivasi belajar.
10. Minat khusus yang dimiliki oleh siswa bermanfaat dalam belajar dan pembelajaran.
Minat khusus itu mudah ditransferkan menjadi minat untuk mempelajari bidang studi atau dihubungkan dengan masalah tertentu dalam bidang studi.
11. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk merangsang minat belajar siswa bagi siswa yang lamban, ternyata tidak bermakna bagi siswa yang tergolong pandai, karena adanya perbedaan tingkat kemampuan, karena itu, guru yang hendak membangkitkan minat belajar para siswa agar menyesuaikan upayanya dengan kondisi siswa yang bersangkutan.
12. Kecemasan dan frustasi yang lemah kadang-kadang dapat membantu siswa belajar menjadi lebih baik. Keadaan emosi yang lemah dapat mendorong perbuatan yang lebih energik. Guru hendaknya memperhatikan keadaan ini supaya dapat memanfaatkannya dalam proses pembelajaran.
13. Kecemasan yang serius akan menyebabkan kesulitan belajar dan mengganggu perbuatan belajar siswa, karena perhatiannya akan terarah pada hal lain, akibatnya kegiatan belajarnya menjadi tidak efektif.
14. Tugas-tugas yang terlampau sulit dikerjakan dapat menyebabkan frustasi pada siswa, bahkan dapat mengakibatkan demoralisasi dalam belajar, yakni perbuatan yang tidak wajar (misal: mencontoh), karena itu guru harus mempertimbangkan tingkat kesulitan tugas yang akan diberikan kepada siswanya.
15. Masing-masing siswa memiliki kadar emosi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ada siswa yang mengalami kegagalan justru tumbuh semangat yang giat. Ada pula siswa yang selalu mengalami keberhasilan justru menjadi cemas terhadap kemungkinan terjadinya kegagalan. Stabilitas emosi perlu diadakan pembinaan.
16. Hubungan kelompok umumnya lebih efektif dalam motivasi belajar dibandingkan dengan paksaan orang dewasa.
Para remaja sedang berusaha mencari kebebasan dari orang dewasa. Ia menempatkan dalam kelompok remaja lebih tinggi. Apa saja yang dilakukan oleh kelompok, ia mau saja mengerjakannya. Itu sebabnya guru yang ingin siswa belajar hendaknya mengarahkan siswa itu ke arah nilai-nilai kelompok, sehingga mereka belajar lebih kreatif.
17. Motivasi yang kuat erat hubungannya dengan kreativitas.
Dengan strategi pembelajaran tertentu, motivasi belajar dapat ditujukan ke arah kegiatan-kegiatan kreatif. Apabila kreatif yang dimiliki oleh siswa diberi berbagai tantangan, maka akan tumbuh kegiatan kreatifnya.
§ Pentingnya Motivasi Dalam Upaya Belajar dan Pembelajaran
Motivasi dianggap penting dalam upaya belajar dan pembelajaran dilihat dari segi fungsi dan nilai manfaatnya. Uraian di atas menunjukkan bahwa motivasi mendorong timbulnya tingkah laku dan mempunyai hubungan untuk mengubah tingkah laku. Fungsi motivasi adalah :
1. Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan. Tanpa motivasi tidak timbul suatu perbuatan, misalnya belajar.
2. Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
3. Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
Guru bertanggungjawab melaksanakan sistem pembelajaran agar berhasil dengan baik. Keberhasilan ini bergantung pada upaya guru membangkitkan motivasi belajar siswanya. Pada garis besarnya motivasi mengandung nilai-nilai sebagai berikut:
1. Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya kegiatan belajar siswa. Belajar tanpa motivasi sulit untuk mencapai keberhasilan secara optimal.
2. Pembelajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat yang ada pada diri siswa. Pembelajaran tersebut sesuai dengan ketentuan demokrasi dalam pendidikan.
3. Pembelajaran yang bermotivasi menuntut kreativitas dan imajinitas guru untuk berupaya secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan serasi guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa. Guru hendaknya berupaya agar para siswa memiliki motivasi sendiri (self motivation) yang baik.
4. Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan mendayagunakan motivasi dalam proses pembelajaran berkaitan dengan upaya pembinaan disiplin kelas. Masalah disiplin kelas dapat timbul karena kegagalan dalam penggerakan motivasi belajar.
5. Penggunaan asas motivasi merupakan suatu yang esensial dalam proses belajar dan pembelajaran. Motivasi merupakan bagian integral daripada prinsip-prinsip belajar dan pembelajaran. Motivasi menjadi salah satu faktor yang turut menentukan pembelajaran yang efektif.
D. Hasil Belajar
Menurut W.S. Winkel, hasil belajar merupakan suatu kemampuan internal (capability) yang telah menjadi milik pribadi seseorang dan memungkinkan orang itu melakukan sesuatu atau memberikan prestasi tertentu.
Hasil belajar Pendidikan Agama Islam merupakan bagian dari proses kegiatan belajar mengajar, yaitu aspek penilaian, mengingat mata pelajaran Pendidikan Agama Islami merupakan ilmu normatif, maka aspek yang dinilai untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islami masih dalam lingkup afektif yang meliputi:
a. Aspek pengetahuan.
b. Aspek pemahaman
c. Aspek analisis
Perolehan hasil belajar Pendidikan Agama Islam terdiri dari:
a. Ulangan harian
b. Nilai tugas-tugas
c. Ulangan semeste
E. Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) disingkat CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Pembelajaran konstekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini menurut Nurhadi (2003) dilakukan dengan melibatkan komponen utama pembelajaran yang efektif, yakni:
1. Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme (constructivism) merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak dengan tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Tetapi manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide, yaitu siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri.
Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar ini pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Landasan berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektifitas, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.
Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:
a. Menjadikan pengetahuanan bermakna dan relevan bagi siswa;
b. Memberi kesempalan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri;
c. Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
2. Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya, karena bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis pendekatan kontekstual.
Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:
a. Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis;
b. Mengecek pemahaman siswa;
c. Membangkitkan respon pada siswa;
d. Mengetahui sejauhmana keingin tahuan siswa;
e. Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa;
f. Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yaug dikehendaki guru;
g. Untuk.membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa;
h. Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
Pada semua aktivitas belajar, questioning dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas dan sebagainya.
3. Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi juga hasil dari menemukan sendiri.
Siklus inquiry adalah:
a. Observasi (Observation)
b. Bertanya (Questioning)
c. Mengajukan dugaan (Hiphotesis)
d. Pengumpulan data (Data Gathering)
e. Penyimpulan (Conclussion).
Kata kunci dari strategi inquiry adalah siswa menemukan sendiri. Adapun langkah-langkah kegiatan menemukan sendiri adalah:
a. Merumuskan masalah dalam mata pelajaran apapun.
b. Mengamati atau melakukan observasi.
c. Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya.
Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audience lainnya.
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, antar kelornpok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Di ruang kelas ini, di sekitar sini, juga orang-orang yang berada di luar sana semua adalah anggota masyarakat yang belajar. Dalam kelas menggunakan pendekatan kontekstual, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Dengan pendekatan kontekstual, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Yang pandai mengajari lemah, yang tahu memberitahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan seterusnya. Kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorarig ahli ke kelas.
“Masyarakat belajar” bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. “Seorang guru yang mengajari siswanya” bukan contoh masyarakat belajar, karena komunikasi hanya terjadi satu arah, yaitu informasi hanya datang dari guru ke arah siswa; tidak ada arus informasi yang perlu dipelajari guru yang datang dari arah siswa. Dalam contoh ini yang belajar hanya siswa bukan guru. Dalam masyarakat belajar, dua kelompok (atau lebih) yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberikan informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajamya. Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, semua pihak mau saling mndengarkan. Setiap pihak harus merasa bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari.
5. Pemodelan (Modelling)
Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu, memberi peluang yang besar bagi guru untuk memberi contoh cara mengerjakan sesuatu, dengan begitu guru memberi model tentang bagaimana cara belajar. Sebagian guru memberi contoh tentang cara bekerja sesuatu, sebelum siswa melaksanakan tugas, misalnya cara menemukan kata kunci dalam bacaan. Dalam pembelajaran tersebut guru mendemonstrasikan cara menemukan kata kunci dalam bacaan dengan menelusuri bacaan secara cepat, dengan memanfaatkan gerak mata. (scanning). Ketika guru mendemonstrasikan cara membaca cepat tersebut, siswa mengamati guru membaca dan membolak balik teks.
Gerak mata guru dalam menelusuri bacaan, menjadi perhatian utama siswa. Dengan begitu siswa tahu bagaimana gerak mata yang efektif dalam melakukan scaning. Kata kunci yang ditemukan guru disampaikan kepada siswa, sebagai hasil kegiatan pembelajaran menemukan kata kunci secara cepat. Secara sederhana, kegiatan itu disebut pemodelan. Artinya, ada model yang bisa ditiru dan diamati siswa, sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci. Dalam kasus itu, guru menjadi model. Dalam.pendekatan kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang, dengan melibatkan siswa, seorang siswa dapat ditunjuk untuk memberi contoh temannya, cara melafalkan suatu kata, jika kebetulan ada siswa yang pernah memenangkan lumba baca puisi atau memenangkan kontes berbahasa Inggris, siswa itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. Siswa contoh tersebut dikatakan sebagai model, siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai standar kompetensi yang harus dicapai.
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dalam hal belajar di masa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dan pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respons terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Misalnya, ketika pelajaran berakhir, siswa merenung, “Kalau begitu, cara saya menyimpan file selama ini salah, ya! Mestinya dengan cara yang baru saya pelajari ini, file komputer saya lebih tertata dan lebih rapi”.
Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses belajar. Pengetahuan yang dimiliki siswa diperluas melalui konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit sehingga semakin berkembang. Guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan refleksi itu, siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya.
7. Penilaian Sebenarnya (Authentic Assesment)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambara perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan disepanjang proses pembelajaran, maka assessment tidak dilakukan diakhir periode seperti akhir semester.
Pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi basil belajar seperti formatif dan sumatif, tetapi dilakukan bersama dengan terintegrasi, yaitu tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. Pembelajaran yang benar seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn), bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran. Karena assessment menekankan proses pembelajaran maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Guru yang ingin mengetahui perkembangan belajar, bahasa Inggris misalnya bagi para siswanya harus mengumpulkan data dari kegiatan nyata saat para siswa menggunakan bahasa Inggris, bukan pada saat para siswa mengerjakan tes bahasa Inggris. Data yang diambil dari kegiatan siswa saat siswa melakukan kegiatan berbahasa Inggris, baik dalam kelas maupun di luar kelas, itulah yang disebut data autentik.
Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanya salah satunya, itulah hakekat penilaian yang sebenarnya. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain. Karakteristik authentic assessment adalah:
a. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.
b. Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif.
c. Yang diukur adalah keterampilan dan performansi, bukan hanya mengingat fakta.
d. Berkesinambungan.
e. Terintegrasi.
f. Dapat digunakan sebagai feed back.
Dengan demikian pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi diakhir periode pembelajaran (Depdiknas, 2003:10).
Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual, jika menerapkan komponen utama pembelajaran efektif ini dalam pembelajarannya. Untuk melaksanakan hal itu dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimana pun keadaannya. Penerapan pendekatan kontekstual secara garis besar langkah-langkahnya ialah:
a. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara mereka sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
b. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua pokok bahasan.
c. Mengembangkan sikap ingin tahu siswa dengan bertanya.
d. Menciptakan masyarakat belajar.
e. Menghadirksn model sebagai contoh pembelajaran.
f. Melakukan refleksi di akhit pertemuan, dan
g. Melakukan penilaian apa yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Dengan konsep itu, hasil-hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa, strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil, dimana siswa belajar mengkonstruksikan sendiri. Karena diasumsikan dengan strategi dan pendekatan yang baik, maka akan memperoleh hasil yang baik pula. Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Para siswa menyadari bahwa yang mereka pelajari akan berguna dan sebagai bekal hidupnya di kemudian hari. Para siswa mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menanggapinya, itulah sebabnya para siswa tersebut memerlukan tenaga pengajar yang profesional sebagai pengarah dan pembimbing mereka dalam belajar.
Ada beberapa alasan mengapa pendekatan kontekstual menurut Depdiknas (2003) menjadi pilihan yaitu:
a. Sejauh ini pendidikan ini masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar baru yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
b. Melalui landasan filosofi konstruksivsme, CTL ‘dipromosikan’ menjadi alternatif strategi belajar yang baru melalui strategi belajar pendekatan kontekstual, siswa diharapkan belajar melalui mengalami, bukan menghafal
c. Knowledge is constructed by humans, Knowledge is not a set of facts, concepts, or laws waiting to be Discovered, It is not something that exists independent of a knower. Humans create or construct knowledge as they attempt to bring meaning to their experience, everything that we know, we have made (Zahorik, 1995)
Knowledge is konjectural and fallible. Since knowledge is a construction of humans and humans constantly undergoing new experiences, knowledge can never by stable. The understandings and incomplete. Knowledge grows through exposure. Understand become deeper and stronger if one tes it agains new encounters (Zahorik, 1995).
Ada lima elemen belajar yang konstruktivistik yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual menurut Zahorik (1995: 14-22), yaitu:
a. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge).
b. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge), dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya.
c. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun konsep sementara (hipotesis), melakukan sharing kepada orang lain agar dapat tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan itu, dan konsep direvisi dan dikembangkan.
d. Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge).
e. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.
F.Pendekatan Konvesional
Mengajar konvensional memiliki beberapa pengertian. Dalam penelitian ini penekatan Konvensional cenderungn pada penataan ruang kelas yang tidak semuanya berbicara Center teacher , hal semacam ini banyak dijumpai, dengan penataan bangku dan kursi memiliki makna guru sebagai pusat perhatian.
Munandir, (2001) mengemukakan bahwa belajar harus bermakna artiny apa yang dipelajari siswa semestinya bermakna baginya..Sifat bahan yang dipeljari dan cara guru mengajarkan bahan itu seringkali menggunakan berbagai teknik memaksa perhatian siswa .
Dalam pembelajaran konvensional terdiri dari tiga katagori proses pembelajaran yaitu : pendahuluan diberikan, siswadimotivasi untuk menjalani proses pembelajaran , selanjutnya guru memasuki inti pembelajaran kemudian penutup. Inti pembelajaran konvensional memperhatikan beberapa hal.yaitu:
a. Ruang lingkup materi harus mencakup aspek pengetahuan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur). Bila materi mencakup ketrampilan hendaknya ruang lingkup materi memuat ketrampilan intelektual, ketrampilan fisik dan psikomotor, reaktif dan interaktif, dan bila halitu mencakup aspek afektif , harus jelas unsur-unsur yang masuk didalamnya.
b. Hubungan logis organisasai materi salah satu syarat ceramah konfensional yang baik adalah tersusun rapi dan terorganisir sesuai dengan logika , menurut tujuan utama adalah komunikasi
c. Tehnik penyajian materi tentusaja belum cukup jika ceramah itu hanya didasarkan pada adanya materi yang terorganisir dengan baik. Materi itu harus dinyatakan dan disampaikan secara eksplisif pada siswa.Untuk menjelaskan materi ini ada tiga tehnik menurut rohman dan Mocin ( l933 : 98 ) sebagai berikut: tehnik prinsip contoh,( Rule Example). (b) tehnik berkaitan penjelasan explaning ling dan tehnik bantuan struktural (Struktural support).
d. Perhatian siswa. Materi yang telah terorganisai dengan baik akan tidak mempunyai arti apabilamasalah perhatian siswa tidak dapat dipahami, guru perlu menerapkan sebanyak mungkin tehnik yang sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi, dan sewaktu-waktu guru menyisipkan Tanya jawab.
e. Sebagai penjelasan terakhir guru perlu membuat kaitan antara materi yang telah dipelajari dan materi berikutnya, agar siswa dapat memahami urutan materi yang diajarkan.
Setelah selesai penyampaian inti pelajaran, guru selanjutnya masuk pada bagian penyimpulan atau penutup yang berfungsi untuk (a).menciptakan suasana yang lebih akrap dan agak rileks.(b) mmberi kesempatan pada siswa untuk memberi kan gagasan (ide) tertentu atau memberikan beberapa contoh (c) menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa (d), melakukan reviu atau menjelaskan tentang test yang akan diberikan kemudian ( Rochman dan Moein 1993 : 100 )
Walaupun pembelajaran konvensional sangat didominasi oleh guru namun dalam kondisi tertentu dapat melibatkan tehnik tanya jawab dalam konteks pembelajaran konvensional, dapat memberikan penekanan materi yang diajarkan., memberikan latihan praktis , menimbulkan kesadaran diri meningkatkan perhatian, memberikan rangsangan beragam. Dan mengkajin ulang materi. Pola komunikasi pada belajar konvensional adalah komuni kasi langsung antara guru dan siswa . Keberhasilan belajar sangat ditentukan oleh kualitas guru karena guru adalah sumber belajar utama.
Kelebihan pembelajaran konvensional adalah murah (ekonomis) dan eficien dalam penggunaan sumber, dapat seefaktif metode lain kalau ditangani sungguh-sungguh, mudah menyajikan, sehingga disenangi guru. Kelemahan pembelajaran konvensional, tidak mengembangakan kreativitas, potensi siswa dibuat pasif, pembelajaran verbalistis, tidak cocok untuk mengajarkan aspek kognitif tingkat tinggi, serta sulit dicerna penyajiannya.
G. Kerangka berfikir
1. Hasil belajar siswa pada yang menggunakan pedekatan CTL lebih baik karena menggunakan landasan berfikir konstruktifisme, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkian dengan seberapa banyak siswa memperoleh dan menerima dan mengingat pengetahuan.
CTL pembelajaran yang menghubungkan bahan ajar dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari siswa, dengan keluarga dan masyarakat, sehingga lebih memotifasi siswa.(US Department of Education 2001 ).
Pendekatan Konstektual telah menjadi pilihan Depdiknas (2003) diasumsikan dengan strategi dan pendekatan yang baik , maka akan memperoleh yang baik pula..
Siswa menyadari bahwa yaang mereka pelajari berguna dan bermanfaat bagi hidupnya dibelakang hari. Sehingga siswa berupaya untuk menanggapinya.
Penerapan pendekatan konstektual secara garis besar langkah-langkahnya sbb.1) .Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya. 2). Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua pokok bahasan.3). Menembangkan sikap ingin tahu siswa dengan bertanya.4). Menciptakan masyarakat belajar. 5). Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran6). Melakukan reflexsi di akhir pertemuan 7). Melaksanakan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
2. Siswa yang diberikan motivasi memiliki hasil belajar lebih baik karena siswa memiliki dorongan untuk berprestasi.
Pada garis besarnya motivasi belajar mengandung nilai-nilai :
1).Motivasi menentukan tingkat keberhasilan dan kegagalan sisiwa. Belajar tanpa motivasi tidak mungkan berhasil optimal. 2).Pembelajaran bermotivasi hakekatnya adalah pembelajaran yang seuai dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat yang ada pada diri siswa.. 3).Pembelajaran bermotivasi menuntut kreativitas dan imajinasi guru untuk berupaya secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan. 4).Penggunaan asas motivasi merupakan bagian integral daripada prinsip- prinsip belajar dan pembelajaran, menjadi salah satu faktor yang turut menentukan hasil pembelajaran.
3. Motivasi belajar yang mempu menggerakkan gairah siswa tersebut tentu saja akan lebih bermakna bila dibarengi dengan pendekatan pembelajaran yang tepat , yaitu pendekalan Kontektual yang jelas sangat tepat untuk siswa tingkat SMP. Sehingga akan menambah kwalitas hasil belajar siswa secara nyata.
G. Hipotesis Penelitian.
Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan dan teori yang melandasi maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut.
- Terdapat pengaruh yang significan motivasi belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.pada kelompok pembelajaran seswa kelas VII di SMP Negeri IV dan SMP Negeri V Kota Madiun.
- Terdapat pengaruh yang significant pedekatan CTL terhadap hasil belajar mata pelajaran Pendidikan agama Islam pada kelompok pembelajaran siswa kelas VII di SMP Negeri IV dan SMP Negeri V Kota Madiun.
- Terdapat pengaruh yang significant motivasi belajar dan pendekatan CTL terhadap hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada kelompok siswa kelas VII di SMP Neger IV dan SMP Negeri V Kota Madiun.
Langganan:
Postingan (Atom)
